DIALOG INTERAKTIF PEMERINTAH DAN TOKOH MASYARAKAT TENTANG RADIKALISME DAN ISIS DI PROPINSI SUMATERA BARAT

isAncaman gerakan Radikalisme Islamic State of Iraq (ISIS) yang dirasa dan diibaratkan terasa ada dan tiada ini semakin membuat cemas seluruh lapisan masyarakat, terutama hal yang paling dicemaskan saat ini adalah perekrutan anggota ISIS diseluruh kawasan dunia, termasuk Indonesia sendiri.

Untuk itu semua pihak dari kalangan manapun, baik pemerintah, akademis, ormas, ulama, kaum adat, hingga masyarakat awam agar dapat merapatkan barisan dan menyatukan suara untuk serempak mengantisipasi perkembangan ISIS ditanah air.

Pemahaman agama dan sunnah pun sedapat mungkin tidak disalah artikan untuk kepentingan tertentu, kemaslahatan masyarakat banyak adalah hal yang harus menjadi tolok ukur demi terciptanya kedamaian dunia, dan Sumater Barat Khususnya.

Hal tersebut menjadi hasil pembicaraan dalam diskusi interaktif pemerintah, ormas,dan lintas tokoh dan kesbangpol dalam menyikapi aksi radikalisme ISIS di Provinsi Sumatera Barat yang diadakan Rabu (8/4/2015) siang tadi di Istana Bung Hatta, Bukittinggi.

Dialog yang menghadirkan beberapa narasumber dari akademis, ulama, dan akademis seperti Prof. Dr Nusyirwan Effendi dari FISIP Unand, Prof. Dr H Syamsul Bahri Khatib ketua umum MUI Sumbar, Duski Samad, Gusrizal  dan Kapolda Sumbar, Brigjen Pol Bambang Sri Herwanto serta beberapa pimpinan dari TNI/Polri Sumbar ini berlangsung hangat. Pemerintah bersama TNI/Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, akademisi, aktivis pergerakan serta pimpinan ormas Sumbar membuat pernyataan sikap tentang penolakan perkembangan ISIS.

Karena selain merugikan kepentingan masyarakat juga dinilai bertentangan dengan agama islam sendiri Pernyataan sikap pada item kedua menyebutkan, Pemerintah Provinsi Sumbar, seluruh tokoh agama, masyarakat dan pemuka adat dengan tegas menolak kehadiran dan keberadaan gerakan ISIS tersebut di seluruh wilayah NKRI.

Kapolda Sumatera Barat Brigjen Pol Bambang Sri Herwanto mengatakan, ISIS inikan pergerakannya hilang nyata, bilang nyata ya gak terlihat disini, bilang nggak nyata buktinya kemarin ada warga kita yang  terlibat dalam organisasi islam garis keras itu.

“Artinya, dalam perekrutan  itu tidak dapat dilihat secara langsung, karena perekrutan bisa menggunakan teknologi, baik melalui internet, maupun dalam bentuk yang lain, tapi bisa juga dilakukan secara langsung,” jelasnya.

Menurut Bambang Sri Herwanto, antisipasi gerakan ISIS patut disosialisasikan kepada masyarakat, agar seluruh masyarakat bisa waspada, karena tidak selamanya pemerintah dan aparatur pemerintah serta TNI/Polri bisa memantaunya secara langsung.

“Gerakan ISIS ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak bisa dilihat masyarakat secara langsung, sehingga diperlukan upaya pencegahan secara nyata, agar seluruh lapisan masyarakat tidak mudah terhasut, tidak mudah terpengaruh, ini yang lebih penting. Oleh sebab itu, hari ini kita mengundang seluruh stakeholder, seluruh komponen bangsa dan masyarakat untuk bersama-sama membangun komitmen agar tidak terjadi penyebaran ISIS di masyarakat kita,” ujar Kapolda.

Terkait ditangkapnya salah seorang warga Sumbar yang diduga terkait ISIS pada Maret 2015 lalu, Kapolda Bambang Sri Herwanto masih melakukan penyelidikan terhadap perkembangannya, baik itu sudah terkontaminasi, akan menyebar maupun yang sudah terjerumus kedalam propaganda ISIS.

“Kita lebih mengutamakan pencegahan, untuk itu peran kita semua agar dapat merapatkan barisan untuk menjaga keamanan dan ketentraman dan ketenangan bisa terjamin” tukas Kapolda.

Sementara itu, dilain pihak, Ketua Umum MUI Sumbar, Prof.Dr.H Syamsul Bahri Khatib mengatakan bahwa untuk mencegah perkembangan propaganda ISIS, peranan seluruh lapisan masyarakat lebih berperan aktif, tidak semuanya harus disandarkan kepada pemerintah maupun aparatur negara.

Menurut Syamsul, program kembali kenagari atau kembali kesurau merupakan salah satu upaya yang jitu dalam mengantisipasi perkembangan paham radikal tersebut.

“Seperti yang kita ketahui, sejak zaman dahulu gak ada yang namanya ISIS-ISIS an, karena sejak dahulu setiap kita dididik dan dibesarkan disurau, kita terus diapantau oleh siapapun, malahan gak kesuarau kita ditegur, malahan yang negur terkadang preman, namun pantauan ini yang menjadi kata kuncinya, dengan pantauan inilah bisa mengontrol diri dan pengawasan terhadap perbuatan yang salah” jelasnya.

Senada dengan Kapolda Syamsul Bahri Khatib pun mengimbau kepada setiap lapisan masyarakat untuk sama-sama bersatu dalam antisipasi perkembangan ISIS. “mari kita sama-sama membentengi diri, anak, kemenakan dan keluarga kita dari hal hal yang dapat merugikan kita semua” imbaunya.(*)

Iklan

Berikan Komentar Anda Tentang Berita Ini?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s