Mengenal Jenderal Badrodin Haiti

Di sebuah rumah sederhana di Desa Paleran, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jenderal Badrodin Haiti dibesarkan oleh orang tuanya KH Ahmad Haiti dengan Siti Aminah (almarhum).

Badrodin, anak keempat dari delapan bersaudara, itu di mata keluarganya merupakan sosok pendiam, cerdas, idealis, dan punya prinsip yang kuat.

Siapa sangka, warga asal Kecamatan Umbulsari, Jember, yang gemar memancing itu menduduki posisi tertinggi di institusi Polri, setelah melalui rangkaian uji kepatutan dan kelayakan di DPR RI. Badrodin dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI (Kapolri) oleh Presiden Jokowi di Istana Negara Jakarta, Jumat (17/4).

Semasa kecil hingga remaja, mantan Wakapolri itu mendapat pendidikan agama yang kuat dari orang tuanya yang juga ulama di desa setempat.

“Kami sekeluarga bangga dengan prestasi Din (panggilan Badrodin dalam keluarga) hingga mengantarkan ke pucuk pimpinan Polri,” kata kakak kandung Badrodin, Luqman Haiti.

Badrodin dikenal keluarganya sebagai pria bersahaja yang jarang bercerita masalah atau tugas sebagai pejabat tinggi di institusi Polri.

“Jika ada masalah, Din sangat jarang bercerita kepada keluarga karena selama bisa melakukan hal itu sendiri, tidak akan meminta bantuan siapa pun, termasuk keluarga,” tuturnya.

Bahkan saat uji kelayakan dan kepatutan di DPR, lanjut dia, Badrodin tidak menghubungi keluarga untuk meminta bantuan atau dukungan karena tidak ingin melibatkan keluarga dalam urusan pekerjaan.

“Saya yakin dia mampu mengatasi semua urusan pekerjaan. Namun, kami keluarga di Jember selalu berdoa yang terbaik untuk Din,” ucap pensiunan guru itu.

Keluarga besar Badrodin juga memantau uji kelayakan dan kepatutan itu melalui televisi dan pihak keluarga sejak awal sudah optimistis tidak ada kendala yang dilalui peraih Adhi Makayasa itu.

“Alhamdulillah uji kelayakan berjalan lancar tanpa ada perdebatan di Komisi III DPR RI, sehingga semuanya aklamasi mendukung Badrodin,” tuturnya.

Hanya beberapa jam setelah uji kelayakan dan kepatutan di Komisi Hukum DPR RI, suami Tedjaningsih itu langsung ditetapkan menjadi Kapolri dalam rapat paripurna DPR. pada rapat paripurna itu, dewan juga membatalkan Budi Gunawan sebagai Kapolri seperti yang disahkan dalam paripurna 15 Januari 2015.

Di rumah sederhana dengan sebuah langgar keluarga yang agamis dan fanatik itu, mantan Kapolda Jatim tersebut selalu menjadi inspirasi bagi keluarga, kerabat, dan tetangganya.

Kecerdasan Badrodin itu ditunjukkan sejak kecil selama menempuh pendidikan di SDN Paleran 1, namun kelas 6 pindah sekolah di Blitar karena ikut kakaknya. Setelah lulus SD, ia kembali ke Jember dengan menempuh pendidikan MTs Baitul Arqom,Kecamatan Balung, dilanjutkan SMA Muhammadiyah Rambipuji dan pindah ke SMA Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Jember.

“Badrodin selalu berprestasi dengan nilai yang sangat memuaskan sejak SD dan semua temannya mengakui kecerdasannya,” kata teman akrabnya semasa kecil, Poniran, yang juga tetangganya di Paleran.

Kedua orang tua Badrodin dalam memberikan asuhan dan pendidikan agama yang kuat kepada delapan anaknya menjadi tauladan bagi warga karena kedua orang tuanya juga merupakan tokoh agama yang disegani.

Badrodin juga merupakan lulusan terbaik peraih Adhi Makayasa di Akabri Kepolisian tahun 1982, kemudian lulusan terbaik “Adhi Wira” di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tahun 1989, lulusan Sekolah Staf Pimpinan (Sespim) Polri Angkatan XXXIII Tahun 1998.

Pria kelahiran Jember, 24 Juli 1958 itu membuktikan prestasinya lagi dengan penghargaan “Wibawa Seroja Nugraha” sebagai lulusan terbaik Lemhannas KRA 36 Tahun 2003.

“Pak Kiai Ahmad Haiti dan Bu Nyai selama hidupnya hanya mengurusi orang ngaji, memberikan ceramah, dan mendidik anak dengan baik, sehingga wajar semua anak-anaknya berprestasi,” tutur Poniran.

Meski memiliki delapan anak, almarhumah Siti Aminah membesarkan anak-anaknya seorang diri, tanpa bantuan pembantu dan memberikan pendidikan agama yang terbaik bagi putra-putrinya.

“Kami juga ikut senang mendengar kabar Din dilantik jadi Kapolri dan beberapa waktu lalu saat pulang ke rumah Paleran, ia juga selalu bersikap ramah dan tidak mentang-mentang punya jabatan tinggi. Memang orangnya agak pendiam,” paparnya.

Badrodin pulang ke Desa Paleran saat pemakaman orang tuanya, 10 Maret 2014, dengan jabatan Wakapolri mendampingi Jenderal Sutarman.

“Beberapa tamu penting yang hadir dalam acara pemakaman itu seakan tidak percaya karena rumah orang tua Wakapolri itu begitu sederhana dan tidak ada renovasi sama sekali,” paparnya.

 Tantangan Profesional Polri

Setelah dilantik menjadi Kapolri, tantangan yang dihadapi Badrodin tidaklah mudah, salah satunya adalah menjadikan institusi Polri yang profesional dan menegakkan konstitusi.

“Citra Polri di mata masyarakat sudah tidak lagi bersinar, apalagi banyak warga yang kurang percaya terhadap kinerja aparat kepolisian,” kata pengamat politik Universitas Jember, Joko Susilo.

Menurut dia, Badrodin merupakan sosok yang “low profile” dan mudah diterima semua lapisan masyarakat karena tidak memiliki rekam jejak negatif.

“Tugas Badrodin harus menjadikan Polri sebagai lembaga profesional dan tidak mudah dipolitisasi oleh sejumlah pihak, agar citra lembaga tersebut kembali bersinar,” tuturnya.

Status Polri sejak Reformasi, 1 April 1999 tidak lagi di bawah ABRI dan di bawah pembinaan Departemen Pertahanan dan Keamanan, bahkan sejak 1 Juli 2000, sesuai Keppres No 89/2000, status Polri berada di bawah pengawasan Presiden RI dan Kapolri bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

“Polri lebih leluasa untuk mengatur anggaran dan kebutuhannya, namun beberapa waktu lalu juga terjadi korupsi dan penyalahgunaan oleh oknum-oknum Polri,” ucap dosen FISIP Universitas Jember.

Selain lembaga Polri yang profesional, lanjut dia, Badrodin juga memiliki tantangan untuk memberantas korupsi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baik di internal maupun eksternal.

“Polri dan KPK harus bersatu padu untuk melibas para koruptor yang kini masih berkeliaran, sehingga harmonisasi antara penegak hukum harus dijaga,” ujarnya.

Joko optimistis Badrodin memiliki pengalaman yang cukup banyak dan bisa memimpin Polri dengan tegas, sehingga bisa menjadikan Polri lebih baik dan profesional.

Kakak kandung Badrodin, Luqman Haiti juga mengatakan tugas berat dan tantangan yang tidak ringan harus dihadapi adiknya untuk menciptakan lembaga Polri yang profesional dan menjaga keamanan di dalam negeri.

“Din itu orangnya kuat dalam memegang prinsip, sehingga yang benar akan dikatakan benar dan salah akan dikatakan salah. Bahkan tidak bisa diintervensi melalui keluarga atau lainnya,” tuturnya.

Pihak keluarga besar di Jember, lanjut dia, mendoakan Badrodin bisa memimpin Polri dengan amanah, memperbaiki internal Polri untuk lebih profesional, dan mampu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Luqman juga berharap Badrodin menjadi pemimpin Polri yang dapat mengayomi anggota dan masyarakat dengan caranya sendiri.

“Insyallah ia bisa menjadi Kapolri yang amanah,” paparnya.

Sejumlah putra daerah Jember juga berharap anak keempat pasangan KH Ahmad Haiti dan Siti Aminah itu mampu memimpin Polri dengan baik.

“Saya kenal dengan baik Pak Badrodin karena sama-sama warga Jember. Beliau adalah orang yang sangat sederhana dan bersahaja di mata warga Jember,” kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil.

Dengan pendidikan di pesantren dan hidup di lingkungan petani, Arum Sabil berharap Kapolri baru mampu memberantas mafia impor pangan yang saat ini menjadi “teroris” bagi para petani.

“Terciptanya keamanan dan ketertiban tidak terlepas dari urusan perut, sehingga kepentingan petani yang memiliki tugas untuk menciptakan kedaulatan pangan perlu dilindungi,” tuturnya.

Menurut dia, sejuta harapan digantungkan di pundak Kapolri baru, sehingga Badrodin harus berjuang keras untuk mewujudkan harapan masyarakat tersebut.

“Petani sangat berharap Pak Badrodin mampu melindungi petani dari mafia impor pangan dan sosoknya yang negarawan selalu mendengarkan aspirasi masyarakat, sehingga tidak heran beliau selalu sukses di sejumlah daerah saat memimpin,” paparnya.

Arum juga berharap dengan tangan dingin Badrodin, tidak ada friksi di tubuh internal Polri dan merangkul semuanya untuk mewujudkan institusi Polri yang kuat, termasuk merangkul Budi Gunawan yang batal dilantik menjadi Kapolri.

Sementara Wakil Ketua PCNU Jember, Misbahussalam berharap Badrodin yang dibesarkan di lingkungan pesantren dan almarhum kedua orang tuanya yang menjadi ulama kharismatik mampu menjadi motivasi untuk menekan ancaman radikalisme dan gerakan Islam garis keras.

“Saya yakin dasar keagamaan Pak Badrodin sangat kuat dan beliau memahami ajaran agama Islam dengan baik, sehingga kami berharap Polri dapat menangkal sejumlah gerakan Islam radikal dan garis keras yang sudah masuk ke Indonesia,” tuturnya.

Ia mengaku bangga putra daerah Jember menjadi orang nomor satu di tubuh Polri, sehingga hal itu semakin memotivasi warga Jember untuk menjadi tokoh nasional yang berguna bagi bangsa dan negara,

Tokoh muda NU Jember itu juga berharap Badrodin mampu menjadi pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat, sehingga keamanan dan ketertiban di dalam negeri dapat terjamin.

Badrodin yang dikenal sebagai juru damai di Poso juga diharapkan mampu menjaga keutuhan bangsa dan tidak ada lagi kerusuhan yang mengatasnamakan agama dan suku. (*)

Iklan

Berikan Komentar Anda Tentang Berita Ini?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s